Sabtu, 30 April 2011

Muntul Cup


Muntul is one of the types of tubers are often called "ubi". It was sweet and heavy food and it can prop up our stomach. Ubi is also one solid food. Usually cooked with boiled. But now many innovations that made ​​for sweet enthusiasts is increasing.

Already we have seen many innovations that made ​​the sweet tuber fries on the side of the street traders. Among them "ubi goreng" and "kolak ubi" (in the month of Ramadhan). But  in my dormitory there was a competion to commemorate Kartini's an interesting one that is Muntul Cup (creation of ubi) in last week.


I and some my friends nofitri, Edwina and livia (209 members) followed despite the sudden preparation. Our creations are "batu ubi keju" and "ubi bunga strawberry" . And there are some creations of ubi in other groups also are more attractive. They are sate ubi, tart ubi, usaka papua (ubi and fish fries), biscuit ubi and so many creation of ubi. It is unique creation and yummy!! ^0^

Minggu, 24 April 2011

Ayahku (bukan) pembohong





Wah buku ini telah menyihirku dalam setiap kalimatnya. Membuatku terisak-isak atas pengorbanan ayah yang begitu dasyat. Membuatku tenggelam dalam alur cerita yang unik dan seakan benar-benar masuk menjadi tokoh tersebut. Dam anak laki-laki dari sang ayah yang gemar cerita adalah tokoh yang inspiratif. Tak lupa juga sang ayah yang tiada henti-hentinya menyemangati anaknya dengan cerita-cerita ajaib yang menggugah rasa ingin tahu Dam lebih besar. Dimulai dari si nomor sepuluh, si Raja tidur sampai surga para sufi.

Namun sayang suatu ketika Dam membenci dengan perilaku ayahnya yang gemar bercerita. Cerita-cerita itu seakan membuat trauma mendalam baginya dan membenci ayahnya setengah mati. Kemudian apa ending cerita ini? Sebaiknya segera beli dan membacanya.hehehe. Nice!

Satu paragraf yang sangat ku sukai:
Kau tahu, sembilan puluh sembilan persen anak laki-laki tidak pernah lagi mau memeluk ayah mereka sendiri setelah tumbuh dewasa. Padahal sebaliknya, sembilan puluh sembilan persen dari ungkapan terdalamnya, seorang ayah ingin memeluk anak-anaknya..."

Sayang ayah... :-)

Minggu, 17 April 2011

Ulat bulu kian merebak

Belakangan ini wabah ulat bulu sedang banyak menyebar di beberapa daerah di Indonesia. Dari mulai jambi, jakarta, bandung, jawa timur dan Bali kini sudah mulai bertambah banyak. Jumlahnya yang kian tidak normal membuat resah banyak orang. Jumlahnya benar-benar terus bertambah.

Kini peristiwa itu membuat banyak pelajaran berharga untuk kita. Mungkin ini salah satu peringatan kepada kita untuk lebih peduli terhadap alam. Suhu bumi yang semakin panas merupakan salah satu faktor pendukung mempercepat perkembangbiakkan ulat bulu. Sadarkah sudah 2 minggu ini, cuaca begitu sangat curam. Dari pagi hingga jam 2 siang, cuaca terik sekali. Sedangkan dimulai jam 2 ke bawah cuaca turun drastis, mungkin bisa hujan mendadak atau menjadi lebih sejuk.


Dan berbagai usaha telah dikerahkan. Dimulai dari menyemprotkan peptisida hingga menebang pohon yang menjadi sarang perkembangbiakan ulat bulu. Tetapi apakah penebangan pohon justru jalan yang baik dalam mengurangi ulat bulu itu? Bukannya itu malah menghilangkan 1 pohon lagi, padahal kita tahu bahwa bumi semakin panas. Dan bumi yang semakin panas juga pendukung semakin banyaknya ulat bulu.

Akankah kita menebang pohon tetapi tetap memperbanyak ulat bulu itu?

Sebaiknya penebangan pohon itu benar-benar harus dipilih lagi agar tetap menjaga lingkungan. Kemudian kita juga jangan lupa untuk menanam pohon lagi sebagai pengganti pohon yang ditebang.