Sabtu, 31 Juli 2010

How are you friend???? (re-post)

Sebel ya rasanya kalo dicuekin, dikacangin, enggak dibales smsnya, enggak diangkat telponnya atau enggak bisa dibilang enggak diperduliiiiiiiiiiiiiin.

Ya Allah aku ingin tahu kabar saudaraku...

Bisa dibilang ini sebuah pelajaran juga buat aku. Jangan suka bikin orang khawatir kalau ada yang peduli dengan kamu. Jujur ya aku males banget bales sms... Mungkin ini Allah sedang memperlihatkan kaca kehidupan sama aku. Jadi ingat kata pepatah, "Kalau mau dihormati, harus menghormati orang lain terlebih dahulu."

"Kalau mau dibalas smsnya, balas sms orang dulu...." Wkakakakaakak.

Oke oke..
Aku jadi tahulah gimana orang khawatir...hehehe

*minta maaf sama mama yang paling sering enggak dibales smsnya kalau ditanya dimana sekarang.

Karma ini anakmu maaa....OH...


*ternyata hapenya ilang. lebay banget ya gue.wkakakakakak...
*post yang paling ga penting..

Jumat, 30 Juli 2010

Berburu Hidangan Allah

Lagi-lagi iseng membuahkan keberuntungan..
Iseng-iseng goggling nemuin nih artikel good banget. Ya sudah deh copas. Maaf ya belum bisa buat kayak begini soalnya. Mainannya mesir soalnya...hehehe

Semoga saya dapat menyusul dan merasakan sendiri dari cerita di bawah ini.
Amin ya Rabb...




Berburu hidangan Allah

Selama Ramadhan, kami tidak usah direpotkan dengan kegiatan masak buat berbuka. Hampir setiap mesjid di kota Kairo ini, selalu menyediakan makanan buat para shaimin. Berbeda dengan di tanah air, yang hanya tersedia di mesjid-mesjid tertentu saja. Di Mesir, jika kita bepergian kemanapun, jangan khawatir magrib ngga makan. Asal mau datang ke mesjid terdekat, pasti ada makannya. Nah, hidangan di Mesir ini dinamakan maidaturrahman (secara harfiah berarti hidangan dari Yang Maha Pemurah).

Menurut sebuah koran yang saya baca, pada Ramadhan tahun lalu, maidaturahman di mesjid-mesjid Mesir ini dinikmati oleh rata-rata 3 juta orang per hari. Jumlah penyumbangnya ada 10 ribu orang. Mereka adalah para dermawan Mesir, juga para hartawan pengelola yayasan sosial di negara-negara Arab lain semisal Saudi atau Kuwait. Total dana yang dikeluarkan untuk membiayai maidaturahman selama sebulan Ramadhan tahun lalu mencapai $ 100 juta. Atau hampir setengah dari jumlah dana pembangunan Maktabah Iskandariah yang megah dan menghabiskan biaya $ 220 juta itu.

Menurut catatan sejarah, maidaturahman ini telah ada sejak masa Ahmad Bin Tulun, khalifah Dinasti Fathimiyyah, yang berkuasa di Mesir pada abad 10 Masehi. Selama ratusan tahun, tradisi ini berjalan baik, tetapi pada dekade 1950-an pernah hilang, kala Mesir dipimpin oleh Gamal Abdul Nasser. Entah kenapa sebabnya, saya kurang tahu. Lalu, tahun 1967 muncul lagi, di mesjid Khulafa ar Rasyidin, kawasan Mesir Jadidah, konsumennya 400 orang per hari. Seiring dengan berjalannya sang waktu, maidaturahman pun kembali menggeliat. Hingga pada akhir masa kepemimpinan Anwar Sadat, tahun 1980-an, trend maidaturahman kembali populer.

Belakangan ini, penyedia maidaturahman tak hanya mesjid-mesjid, tetapi juga toko-toko tepian jalan raya, dan bahkan warga Mesir secara perorangan. Tempat-tempat penyedia maidaturahman itu bisa dengan mudah kita kenali karena selalu ada spanduk iklan. Seolah mereka berlomba merekrut konsumen sebanyak-banyaknya. Subhanallah.



Ingin rasanya Indonesia banyak orang yang dermawan seperti itu...
Subhanallah..

Ramadhan tiba

Yeah ramadhan tiba.
Ayo sepintas apa yang teman-teman pikirkan tentang ramadhan??? Kolek pisah, es buah, es kelapa, baju baruuuuuuuuuu. Lho???
Hahahaha.

Ayo deh kita tengok ke belakang dulu bulan ramadhan kemarin apakah kita sudah memanfaat bulan penuh rahmat itu?

Banyak orang tahu kalo bulan Ramadhan penuh berkah, penuh rahmat, banyak pahala setiap kita melakukan ibadah wajib atau sunah tapi kenapa ya masih banyak yang menyianyiakannya. Haduh, manusia-manusia dikasih enak tapi enggak mau..

Bahkan Allah memberi kelipatan yang LUAR BIASA dibanding bulan-bulan lain. Setiap membaca satu huruf di Al-qur'an pahalanya sudah dilipat berpuluh kali. Coba baru bismillahirrahmannirrohim. Wah sudah banyak tuh. Gimana sama teman-teman yang punya targetan khatam 2x dalam bulan ramadhan, wah pasti pahalan buanyaaak bangeeeet.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 261)
 
Subhanallah... Allah Maha Pemurah ya.

Dan masih banyak ibadah lain yang luar biasa. Shalat sunnah aja dihitung sama dengan pahala shalat wajib. Wow! Kalo shalat terawih 20 rakaat berarti... buanyak yang jelas.

“Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kamu mukminin dan mukminat, orang-orang yang taat laki-laki dan perempuan, orang-orang yang jujur laki-laki dan perempuan, orang-orang yang sabar laki-laki dan perempuan, orang-orang yang suka bersedekah laki-laki dan perempuan, orang-orang yang suka berpuasa laki-laki dan perempuan, orang-orang yang memelihara kehormatannya laki-laki dan perempuan, orang-orang yang suka menyebut-nyebut nama Allah banyak sekali, laki-laki dan perempuan, maka Allah menyiapkan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahdzab: 35)

Wah benar-benar luar biasa. Jangan ketinggalan nih moment-moment kayak gini.

Nah ayo deh Ramadhan sebentar lagi nih. Buat targetan khusus. Orang beruntung orang yang lebih baik dari hari kemarin. Jadi kalo sama aja sama tahun kemarin berarti termasuk orang yang merugi dong. Gak mau kan??

“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.” (Asy-Syam: 9)

Targetannya enggak usah terlalu tinggi. Misalnya kalo sekarang tilawah Al-qur'an nya belum tiap hari, nah di bulan Ramadhan minimal sekali deh bacanya. Habis Shahur nunggu shalat shubuh atau gak nunggu adzan buka puasa. Yang penting targetannya lebih baik jangan malah jadi lebih buruk.

Jangan gara-gara puasa, jadi lemes terus jadi malas melakukan kegiatan dan akhirnya tidur sepanjang hari. Nah itu juga enggak bagus. Malah menyia-nyikan waktu kan? Walaupun tidur dalam bulan Ramadhan ibadah, tapi tidur berlebihan enggak baik. Kepala jadi pusing dan pening dan kegiatan yang harusnya dilakukan malah belum selesai dikerjakan.

Ayo deh jangan sia-sia in ya kesempatan emas kayak begini.

Jangan jadi pengikut terus tapi jadi yang diikuti dong..hehehe Bikin suasana baru di kelas atau ruang kuliah atau ruang kantor jika ada waktu kosong jangan baca novel atau buku yang kurang bermanfaat atau malah nge-gosip (cewek ya biasanya) tapi MARI baca Al-qur'an.

Pertama-tama ajak teman sebelah, terus temen sebelah ajak temen sebelahnya lagi terus begitu nanti kan jadi banyak. Nah selain bisa melakukan hal yang bermamfaat kita juga bisa mengajak orang berbuat baik jadi dapat pahalanya bareng-bareng deh...hehehe

Ayo ayo...
Sambut hadiah ramadhan penuh sukacita.
INGAT!
Bukan uang lebaran tapi...hahaha

saling mengingatkan ya teman-teman...

Kamis, 29 Juli 2010

PLIS DONG, AKH!

Lagi iseng-iseng cari cerpen, aku nemu cerpen bagus banget nih...
walau copy paste, berharap bermanfaat  ya!!



PLIS DONG, AKH!
Nova Ayu Maulita
           
“Assalamu‘alaikum, Ukhti!” suara melengking itu spontan membuatku mendongak. Tommy terlihat sumringah saat melihatku.
“Apa kabar nih? Lama nggak ketemu. Jadi kangen!”
Mulutku tercekat. Hari gini dia bilang kangen sama aku? Ugh. Rasanya aku ingin tenggelam ditelan bumi. Masalahnya saat itu aku tidak sendirian. Aku sedang bersama adik mentoringku. Masalahnya lagi, baru lima menit yang lalu aku mengisi mentoring tentang manajemen hati dan sikap. Nah, kalau sekarang aku disapa Tommy seperti itu kan jadi rumit. Bisa-bisa dikira aku punya skandal dengan ikhwan yang satu ini.
            “Iya, liburan kemana aja, Ukh? Cerita-cerita dong!” Tommy masih nyerocos tanpa merasa bersalah sama sekali. Sementara itu aku senin-kamis menahan malu sambil menghindari tatapan adik-adik mentorku yang sesekali tersenyum nakal dan berdehem-dehem. Mungkin saat itu mukaku sudah berubah menjadi traffic light, merah kuning hijau. Tapi dia tetap saja cuek dan pasang innocent face.
            Tommy adalah teman sekelas SD-ku. Enam tahun sekelas dengan nomor absen yang berurutan membuat kami lumayan akrab. Sering ngobrol, sering kerja kelompok, sering merancang ide-ide konyol, tapi sering bertengkar juga. Pokoknya dulu bisa dikatakan kami berteman baik deh. Waktu lulus SD, dia pindah ke luar kota. Tidak pernah ada kabar sampai tiba-tiba dia sudah satu jurusan, bahkan sekelas denganku di universitas. Tapi tentu saja semua sudah berubah. Paling tidak sekarang aku sedikit-sedikit juga tahu adab bergaul dengan lawan jenis.
            Tapi, entahlah bagaimana dengan Tommy. Dia memang terbuka, suka bergaul, bercanda, dan ngobrol dengan siapa saja. Sepertinya sekarang dia juga sudah cukup paham. Sekarang kami sama-sama bergabung di rohis fakultas. Tommy sering juga ikut kajian umum di fakultas, sering terlihat kumpul bareng ikhwan-ikhwan mushala, sering ikut dalam kepanitian SKI, dan juga  cukup sering menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan pengetahuan Islamnya cukup terakreditasi. Tapi untuk masalah ‘centilnya’ ini, ah entahlah....
            “Kok diem terus sih, Van! Ngomong dong! Ngomong...!” Disuruh ngomong aku malah semakin kikuk. Apa lagi kalau mengingat nada suaranya yang mirip-mirip iklan operator telepon selular yang beberapa waktu lalu sempat populer, “Ngomong dong, sayang..!” Weeit...!
            “Iya, ya, liburanku biasa-biasa aja kok. Pulang cuma seminggu, belum hilang kangennya sama orang rumah. Kemari... nggak jadi deh!” aku nyaris saja keterusan bicara. Tadinya aku mau cerita kalau kemarin aku ketemu sama Dela, teman kami dalam hal gila-gilaan waktu di SD dulu. Wah, kalau tadi aku cerita, pasti obrolan nostalgia SD akan jadi panjang.
            “Kemarin kenapa? Cerita dong... aku jadi penasaran nih.”
“Nggak usah, nggak penting kok! Anggap aja tadi aku nggak ngomong apa-apa”
“Uh... dari dulu kamu nggak berubah. Bikin orang penasaran.”
Aku cuma ngiyem mendengarnya.
 “Eh, Van, Van. Kamu liat akhwat itu nggak?” Kali ini Tommy mengalihkan pembicaraan. Matanya mengarah pada seorang akhwat yang berbaju abu-abu di seberang. “Emangnya kenapa?” Aku terpancing ingin tahu.
            “Itu tuh, bajunya kok nggak match ya. Liat tuh, bajunya abu-abu, bawahannya hijau, jilbabnya item, eh... tasnya merah. Bagusan kan kalo roknya item dan tasnya apa gitu kek, yang penting jangan merah. Trus kaos kakinya itu lho, kok kuning. Aduh...!” Tommy sok-sok memberikan penilaian bak seorang desainer sambil memukul-mukulkan telapak tangan ke jidatnya. “Payah ah, penampilannya! Kalau kamu hari ini sudah cukup match kok, Van. Bagus, bagus!” Tommy memandangi sekilas setelan biru yang kupakai.
Aku sudah tidak tahan mendengar komentar-komentarnya tadi. Siapa yang butuh komentar darinya? Kalau saja kami masih jadi anak SD, sudah kutonjok dia dari tadi. Hiiihhh!
            “Plis dong, Akh! Penting nggak sih buat kamu? Kasian lagi kalau beliaunya denger kamu ngomongin dia kaya gitu. Bisa kehilangan pede. Lagian harusnya kan antum jaga pandangan dong!” jawabku ketus disertai tampang bete. Khusus kalau sedang bicara dengan Tommy kata-kataku jadi campur aduk, tergantung mood. Kadang pakai istilah akhi, antum, afwan, atau istilah-istilah Arab lain. Tapi kadang juga keluar aku, kamu, kasian deh lu, dan bahasa-bahasa gaul lainnya yang dulu biasa kami pakai.
            “Emang nggak boleh ya komentar kaya gitu? Kalau aku malah seneng kalo ada yang ngeritik. Ah, wanita memang susah dimengerti.”
Aku menahan diri untuk tidak berkomentar sambil mengepal-kepalkan telapak tanganku di samping baju. Rasanya darahku sudah mendidih sampai ke otak. Melawan kata-katanya hanya akan memicu perdebatan yang sulit diramalkan endingnya.
            “Eh, udah deh, aku pergi dulu ya.”
Tiba-tiba rongga dadaku terasa lega mendengar kalimat terakhirnya itu. Lega.
“Tapi Ukh, sebelumnya tolong liatin muka saya ada tip-exnya nggak?”
Saking gembiranya, aku langsung menuruti persyaratan untuk membuatnya menghilang dari hadapanku. Aku mendongak menatap wajah yang ditumbuhi sehelai jenggot itu. “Nggak ada, kok,” jawabku.
“Makasih ya, Ukh! Tapi bukannya kita nggak boleh memandang wajah lawan jenis? Sudah ya, wassalamu’alaikum...!”
Tinggal aku yang bengong dan gondok habis. Ugh... kena deh! Awas ya!
 
***

“Assalamu‘alaikum...” Sosok Tommy sudah muncul di depan kostku. Aku celingukan mencari teman yang mungkin dibawanya serta. Nihil.
“Waalaikum salam warahmatullah.. Sendirian aja, Tom? Nggak bawa temen?” Aku jadi kikuk. Serba salah. Setahuku kalau ada dua orang laki-laki dan perempuan maka ketiganya ada setan. Hiyy. Di sini ada setan dong!
Tommy sudah empat kali berkunjung ke kostku. Aku juga sudah selalu berpesan kalau dia harus mengajak seorang teman biar kami nggak ngobrol berdua. Tapi sampai sekarang dia masih suka nekat datang sendirian. Dan aku juga belum bisa mengusirnya dengan tegas. Nggak tega.
“Afwan, tadi cuma mampir karena habis beli jus dekat sini. Udah bikin tugas analisis konflik dan perdamaian, Ukh?”
“Udah, baru aja selesai.” Aku berusaha menghemat kata-kataku. 
“Aku bingung nih, masalahnya gimana sih? Bisa minta tolong dijelasin nggak?”
Pertanyaannya bikin aku garuk-garuk kepala. Memaksaku untuk menjawab panjang lebar. “Bisa nggak kalo nanya di kampus aja?”
“Tapi aku kan mau ngerjain nanti malem. Besok kita juga nggak ketemu di kampus. Padahal lusa harus dikumpulin.” Suaranya bernada kecewa.
“Emang nggak bisa nanya ke yang lain?!”
“Eh, kok ketus banget sih, Van! Aku kan udah bilang, mampir ke sini karena kebetulan habis beli jus di samping kostmu, trus inget kalau ada tugas yang aku nggak ngerti. Jadi sekalian nanya. Malu bertanya sesat di jalan. Kita kan nggak boleh menyembunyikan ilmu yang kita miliki. Ya udah kalau nggak boleh.”
Tiba-tiba hatiku meluluh. Kena jebakan kata-katanya. “Emang mau nanya apa sih?”
Tommy nyengir. “Nah, gitu dong!”
Akhirnya terjadilah diskusi kecil kami selama hampir setengah jam.
“Makasih banyak, Vanti! Entar namamu kucantumin di daftar pustaka deh.” Tommy berusaha melucu.
Tapi bagiku yang udah bete banget jadi enggak lucu sama sekali. Plis dong, Akh!
“Pulang dulu ya. Sampai jumpa. Mimpi indah ya!Bu bye..”
Gleg. “Kok sampai jumpa sih? Pake bubye pula.”
“Eh, iya, afwan. Assalamu‘alaikum...”
“Alaikum salam warahmatullah.”

***

Sepertinya belakangan ini Tommy menjadi sebuah masalah bagiku. Dan entah kenapa banyak kebetulan-kebetulan yang menyebabkan aku harus bersama dengannya. Misalnya pernah waktu jalan tiba-tiba kebetulan dia juga sedang jalan kaki dan tanpa sungkan-sungkan langsung mengajak ngobrol. Waktu beli makanan di kantin juga ketemu. Tiga kali ketemu di ke toko buku. Ke perpustakaan juga ketemu. Di luar kebetulan-kebetulan itu, Tommy juga sering sekali mengirim sms, menelepon, dan menanyakan hal-hal yang sama sekali tidak penting. Suka curi-curi pandang, suka memujiku, dan hal-hal lain yang menurutku sangat menjengkelkan. Rasanya aku ingin beberapa hari cuti jadi orang yang mengenalnya, biar kalau ketemu lagi aku tidak perlu merasa begitu bosan seperti sekarang.
“Jangan-jangan kalian jodoh” Aku hampir tersedak waktu Ika tiba-tiba mengucapkan hal itu. Memecahkan keasyikanku menikmati makan siang di kantin Yu Jum.
“Uhuk... uhuk... hari gini ngomongin jodoh?!” aku buru-buru minum karena tenggorokanku tercekat.
“Emangnya nggak boleh? Kuliah sudah semester lima, umur sudah kepala dua. Kalau memang jodoh kan bisa segera...” Ika cengar-cengir melihatku.
“Astaghfirullah, ngapain sih ngomong kaya gitu, Ka? Jodoh itu rahasia Allah, dengan siapa dan kapan itu rahasia Allah. Nggak usah dipikirin pun toh kalau sudah tiba waktunya akan datang sendiri. Nggak bisa diundur dan nggak bisa dipercepat.”
“Iya, tapi kan kalau memang sudah siap maka makruh hukumnya menunda-nunda pernikahan.” Kali ini Ika mengedip-ngedipkan matanya centil. Membuatku serasa semakin ingin menghilang.
“Yee, siapa yang bilang sudah siap nikah?”
“Lho, kamu belum tahu ya? Tommy kan mau nikah muda! Jadi... jangan-jangan dia sudah punya calon. Siapa tahu...! Inget lho, kalau sudah ketemu jodoh dan mampu, maka makruh hukumnya menunda pernikahan.” Ika kelihatan bersemangat sekali membuatku jengkel.
“Udah ah... kamu bikin aku kehilangan nafsu makan aja, Ka! Kalau kamu berminat, bungkus deh buat kamu!” Ika hanya terkekeh mendengarnya.

***

Entah kenapa tanpa kusadari, obrolan dengan Ika itu menghantui pikiranku. “Iya, jangan-jangan, jangan-jangan... oh tidak! Paling hanya aku yang ke-geer-an.
New sms! Handphoneku tiba-tiba mengoceh sendiri.
Ups, dari Tommy!
Vanti yang baik, tolong ya siapin surat izin pinjam tempat buat syura besok. Plizz, you are my only hope =) 
Ih, apa-apaan sih ini kok minta tolong saja merayunya sampai maut begini. Nggak menghargai banget, masa ngomong sama akhwat masih tetap gombal-gambel kaya gini sih. Tiba-tiba pikiranku kembali melayang pada perkataan Ika siang tadi. Jangan-jangan.... Kadang sikapnya memang suka aneh sih, suka ngajak ngobrol lama-lama, suka memuji, suka sok kebetulan mampir dengan alasan beli jus. Padahal di dekat kostnya pasti juga ada yang jual jus, ngapain juga jauh-jauh beli jus sampai ke sini. SMS yang model begitu juga bukan barang baru lagi. Ihh.

* * *
           
“Hati-hati lho, Van!”
“Kenapa?” alis mataku terangkat refleks.
“Hati-hati lah... sama ikhwan kaya gitu!” tukas Evi, tetangga kamarku.
“Tahu nggak, kemarin Tommy ke sini lagi lho...”
“O ya?” kini mataku yang terbelalak.
“Hati-hati sama hatimu sendiri. Kan kamu sendiri yang bilang apa tuh... witing tresna jalaran suka kulina. Nah, kalau kamu tiba-tiba jadi suka sama dia gara-gara dia sering ke sini gimana?” Evi menatapku serius.
“Apalagi kalian udah kenal sejak kecil kan?” pertanyaannya semakin menusukku.
“So what gitu lho...”
“Ya silakan ditafsirkan sendiri... aku cuma mengingatkan, setan itu cerdik bin lihai lho...”
Aku manggut-manggut
“Harus bisa tegas!” tambah Evi lagi.
“Tegas? Maksudnya, kalau dia dateng lagi aku harus apa? Kalau dia sms nggak usah dibales gitu?”
“Iyalah... kalau dia dateng tuh, nggak usah dibukain pintu! Kalau sms nggak usah dibales. Kalau becanda nggak usah diladeni, pokoknya bersikaplah dingin!”
“O... gitu ya?”

***

            Ternyata saran Evi cukup jitu. Tommy tidak lagi menjadi masalah bagiku dalam tiga minggu terakhir. Senangnya....
            “New sms!”
            Kuraih handphoneku.
            Tommy!
            Ass. Van, tidak saya kira, anti juga bisa bersikap tegas dan cool. Cocok dengan kriteria saya. Jadi, kapan anti siap menikah?
            Pliss dong, Akh!
            Tiba-tiba mataku memanas. Aku tidak sanggup bernapas lagi.***