Minggu, 15 Juni 2014

Pengajian

Saya bingung kenapa pengajian identik dengan hal yang aneh, kolot, terkesan enggak remaja banget. Bukan berlebihan sih, tapi realitanya begitu. Kayaknya kalo diajak nonton di bioskop gitu kayaknya langsung mau dan enggak berpikir panjang. Tapi baru deh kalo eggak punya duit mikir-mikir buat ikut atau enggak. Coba terus kalo ditawarin pengajian? Enggak ada duit atau punya duit  kayak mikir-mikir. Nah itu kenapa ya? Padahal tinggal dateng terus duduk dan enggak ngeluarin duit. Bahkan kalo beruntung bisa dapet kenalan sahabat dan sharing ilmu. Atau lebih beruntung kalau pengajiannya gede bisa dapat makanan seperti nasi kebuli dan ya atau yang lain.
Mungkin takut ajaran sesat gitu ya? Ehm, padahal kalo kita ikut pengajian, kita kan bisa ikut di berbagai tempat. Jadi bisa tahu perbedaan atau hal-hal yang aneh di luar ajaran. Bisa ditanyain juga kan sumber al-qur'an dan hadistnya apa. Dengan begitu kita bisa memilih apa yang baik untuk diserap, tidak serap ilmu sembarangan.

Pengajian sekarang identik dengan kaum ibu-ibu atau orangtua. Ya memang sih beberapa pengajian kadang suka berkelompok. Nah kalo malu buat gabung ke yang umum kita bisa milih gabung ke remaja masjid di suatu tempat. Kan banyak remaja-remajanya kan.hehe. Liat program-programnya dan bisa tanya acaranya sebelum gabung. Banyak sekarang remaja masjid yang gaul kok, enggak cuma belajar dengan dengerin ceramah kok, kadang ada kegiatan sosialnya, olahraga dan pengembangan bakatnya. Kalo di Jakarta sih yang saya tahu ada beberapa remaja masjid yang gaul seperti remaja masjid sunda kelapa, al-ittihad tebet, dan mungkin nama yang lain. Ya di sekitar rumah yang saya tahu. Kadang suka buat acara di taman atau pernah saya lihat CFD-an bareng (Car Free Day). Hidup pilihan sih, suka yang mana? hoho.

Terus kira-kira kenapa ya enggak pada mau pada ikut pengajian?
Pengajian yang dimaksud ini apa ya? Ya bisa ngaji bareng, zikir bareng atau sekedar ceramah di masjid intinya sih berkumpul dan sharing keislaman menurut saya. Ya minimal itu bisa mengisi ruhiyah kita dan menjadi pengingat kita ketika mau masuk jurang. Ya kalo orang-orang yang sibuknya tingkat dewa, mungkin bisa sekedar dengerin ceramah di televisi atau via youtube atau mentoring via skype atau banyak hal lain yang bisa dilakukan. Jaman udah maju kan teknologi dimana-mana.

Mungkin efek dari di atas yang saya sedikit rasakan, ketika shalat shubuh di masjid isinya mbah-mbah semua. Oh GOD! Anak muda kemana ya? Itu weekend lho! Ya walaupun enggak ada keharusan dan kewajibannya sih, tapi enggak ngehits dan happening aja gitu shalat di masjid. Kalo shalat di masjid itu keren atau apalah. Entahlah! haha.Ya positifnya mungkin sibuk, tapi kalo bisa sesibuk apapun kita jangan lupa ya sama Allah. Minimal shalat 5 waktu dikerjain dimanapun berada yah. :D

Ini hanya sebuah pemikiran saya. Bukan dari aliran apa-apa.
Yang penting berlandaskan al-qur'an dan hadist.
Saling mengingatkan saja. Sedih aja ngeliat hal-hal aneh di sekitar. :3

Senin, 09 Juni 2014

Love Green

Gree green and green. Saya lagi terkena sindrom gren nih. Terlalu lama tinggal di pelosok jadi harus banyak penyesuaian nih kembali hidup di dunia kota yang keras. Entah banyak perubahan yang terjadi tapi saya baru menyadarinya. Beberapa kali menempuh perjalanan di jam-jam penting di weekdays berbeda sekali dengan perjalanan weekend seperti biasa (biasa ketika weekend pulang ke rumah semasa waktu kuliah full).
 
Perubahan saya rasakan selama penelitian berlangsung. Kebetulan penelitian saya berlokasi di tengah pusat Jakarta yaitu Monas. Hai tugu! Terlebih lagi jam pengamatan burung yang saya lakukan di waktu pagi dan sore. You know, that busy time! Oh God! Sebelumnya saya tidak pernah memikirkan hal tersebut. Dan mau tidak mau saya rasakan kurang lebih 2 bulan. Ya, saya bolak balik monas. Hahaha.

Macet dan berdebu! Maaf ya saya norak, maklum udah lama enggak di kota. Selama itu pun saya harus mencoba beradaptasi dengan keadaan demi skripsi saya pastinya.hehe. Untungnya punya rumah di Jakarta dibanding saya harus bolak balik bogor di oven oleh kereta 1,5 jam. Mau pulang ke rumah atau ke kosan di Bogor semua jalur macet, penuh dan udara makin tidak mendukung.

Dan di titik itu saya baru sadar, saya butuh kota hijau. Saya butuh kota yang ramai namun tetap sejuk dan tidak berantakan. Entah itu di negara mana saya butuh yang hijau dan udara bersih. Just it. Dan melalui judul skripsi saya yang sedikit menyimpang ke fakultas sebelah, saya baru sadar pentingnya kehadiran burung di suatu tempat. Tanpa disadari suara burung merupakan bagian suara alam yang merdu dan enak di dengar. Ketika banyak burung, pasti banyak serangga sebagai pakan dan banyak bunga atau buah di sekitarnya. Dan alam semakin indah.

Monas salah satu tempat yang harus dijaga dan beberapa titik lokasi di Jakarta yang masih asri. Beberapa lokasi tersebut dinamakan koridor burung. Ada 20 titik koridor burung di jakarta yang harus dijaga keasriannya. Semoga dimana nanti saya tinggal masih banyak hijau-hijau..hehehe.
 
Saya baru merasakan asiknya bermain dengan alam. Love green!



Photo by Panji Krisna Dwi Cahya

Minggu, 18 Mei 2014

Dibalik Hari Pelepasan Sardjana ARL 45

Tema HPS tahun ini kemerdekaan. Tahun kemarin kami menjadi panitia. Tahun ini jadi tamu dengan status: nyekripsi. Semoga tahun depan statusnya berubah yah... aaamin. Semangat lho buat teman-teman yang ngerjain skripsi! Jangan terlalu banyak proyekkan, selesaikan tanggung jawab kita dulu itu lebih baik. Rejeki enggak kemana. Semoga bisa memilih prioritas yang baik. Tapi semua menjadi pilihan hidup, yang penting kita menikmati prosesnya.

Hari Pelepasan Sarjana ARL 45 (sebelum acara)

Catatan
Coba perhatikan foto diatas secara seksama. Apa yang bisa diambil dari tema tersebut?
Baju orang dulu sopan-sopan ya. Jaman sekarang baju makin tipis makin mahal makin pendek makin mahal, enggak kebalik yah? Sadar enggak sih teman-temaaaan......hehe

Banggalah menjadi orang timur yang sopan santun dan lembut.
Gagah dan pemberani
Anggun dan tangguh.
Salam MERDEKA! Love it!




Selasa, 13 Mei 2014